Tari Topeng Malang, Eksotika Budaya Dari Malang Yang Harus Dikenal

malangchannel.com, Malang-Sobat Machan tau tari topeng ? Tari tradisional yang berasal dari Malang. Yuk, kenali lebih jauh tentang tari topeng, kesenian tari khas Malang. Sesuai namanya, tari topeng memiliki ciri khas semua penarinya menggunakan topeng dan diiringi gamelan Jawa. Cerita yang sering dibawakan dalam tarian topeng adalah cerita panji.

Tari topeng sendiri telah ada sejak abad ke-8, dimana saat itu Malang berada di bawah kekuasaan kerajaan Kanjuruhan. Pada mulanya, tari topeng digunakan saat persembahyangan. Namun, pada masa Raja Erlangga tari topeng mengalami perkembangan menjadi kesenian tari. Tari topeng juga merupakan sarana komunikasi rakyat jelata kepada rajanya.

Seiring perkembangan jaman dan gejolak politik, tari topeng juga mengalami perubahan. Mulanya, tari topeng mengalami akulturasi dengan budaya hindu. Hal ini terlihat dari cerita yang ditampilkan berasal dari kisah klasik India. Kemudian saat jaman kerajaan Kertanegara di Singosari cerita tari topeng diadaptasi dari kisah – kisah kepahlawanan ksatria Jawa. Saat Islam masuk ke Jawa, tari topeng bergeser peran sebagai media dakwah ulama untuk menyebarkan agama Islam.

Tari topeng dimainkan oleh beberapa orang. Para pemain mengenakan topeng dan kostum sesuai tokoh yang diperankan. Tari topeng malangan lebih sering menceritakan kisah panji. Seperti kisah asmara Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati dengan Putri Sekartaji atau Candra Kirana, Raden Gunungsari, Dewi Ragil Kuning dan lainnya.

Gending yang digunakan biasanya dimulai dari gending giro, lalu gending eleng – eleng, kemudian krangean, dilanjutkan loro – loro dan gending gondel, terakhir gending sapu jagad. Tarian dibuka dengan beskalan lanang (topeng bangtih), kemudian jejer Jawa, jejer sabrang, perang gagal (selingan tari bapang), gunungsari-patrajaya, perang brubuh dan terakhir bubaran.

Tari topeng merupakan wujud penggambaran dari karakter manusia dan makhluk hidup. Pada umunya ada 4 karakter yang ditampilkan dalam tari topeng. Karakter tersebut antara lain protagonis, antagonis, tokoh lucu dan tokoh makhluk hidup lainnya.

Saat ini, sudah tidak banyak lagi pengrajin dan seniman tari topeng. Berkurangnya minat pemuda untuk melestarikan kesenian ini merupakan faktor utama meredupnya tari topeng. Pemerintah telah berupaya mendaftarkan tari topeng sebagai warisan budaya tak benda pada UNESCO. Sekarang giliran kita yang muda untuk lebih peduli dan melestarikan budaya topeng malangan. Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang menghargai budayanya, oyi po ra ker. (DEW)

Comments