Suara Milenial Tentukan Nasib Indonesia

 

Suara Milenial Tentukan Nasib Indonesia

MalangChannel.com, Malang- Indonesia, negara  multikultural dengan sebaran masyarakat luas dari sabang sampai merauke yang dihuni berbagai macam latar belakang mulai dari suku, ras, budaya, dan agama yang berbeda- beda. Saat ini, Indonesia akan memulai babak baru yang mana akan diselenggarakan Pemilihan Umum Presiden tahun 2019 mendatang. Yang perlu disoroti yaitu kemajemukan bangsa Indonesia. Dengan adanya fenomena  media sosial yang mendarah daging ibarat memberikan efek candu bagi masyarat Indonesia, tak terkecuali bagi kaum milenial yang nantinya juga akan terdaftar sebagai pemilih di pemilu 2019.

Sebenarnya siapakah yang pantas disebut kaum milenial? Menurut Proyeksi Penduduk Indonesia dari Badan Pusat Statistik (BPS), mereka yang berusia 20-34 tahun akan disebut secara sederhana sebagai kaum milenial. Ini menunjukkan bahwa kaum milenial menyumbangan suara untuk pemilu setidaknya sebanyak 23,95% dari total populasi Indonesia. Dan  hampir satu per lima penduduk Indonesia adalah kaum milenial.

Tentunya, semakin berkembangnya suatu bangsa, akan membawa peru bahan yang besar bagi negara. Dengan adanya kaum milenial yang melek media saat ini, semakin memudahkan dirinya untuk memilih kandidat mana yang cocok untuk meneruskan pembangunan negara. Jika kita melihat dua kandidat calon presiden dan wakil presiden saat ini, yaitu Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno. Maka,  menurut Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Oesman Sapta Odang,Ma’ruf Amin termasuk kaum milenial yang tidak dilihat dari umurnya saja, namun perubahan sikap dan perbuatan. Jika kita membahas kaum milenial pada masa sekarang, maka tidak akan pernah habis untuk dibahas. Begitu pula dengan sosok calon wakil presiden nomor urut dua, yaitu Sandiaga Uno.

Sandiaga Uno dirasa mewakili kaum milenial saat ini jika dilihat dari stylish atau cara berpakaiannya yang tidak monoton. Bisa kita lihat, bahwasannya keberadaan kaum milenial sangat penting dalam spektrum Pemilihan Presiden 2019 mendatang. Berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh Lingkar Survey Indonesia (LSI) terhadap 1.200 responden kaum milenial, pasangan Prabowo- Sandiaga Uno mendapatkan suara sebesar 29,5%, sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hampir dua kalinya yaitu 52,7% suara.

- Advertisement -

Dengan banyaknya penduduk Indonesia yang menyebar, dominasi terbanyak untuk kaum milenial masih berada di Pulau Jawa. . Wilayah ini menyumbang setidaknya 53,95 persen dari seluruh total suara kelompok milenial di Indonesia atau 35 juta suara.

 

Angka itu berasal dari Jawa Barat yang ditinggali 18,77 persen kaum milenial, atau setara dengan 11 juta penduduk. Disusul Jawa Timur dengan angka 13,80 persen (8 juta penduduk) dan Jawa Tengah sebesar 11,91 persen atau setara dengan 7 juta penduduk. Dengan adanya data ini, membuat para elite politik tergoda dan merancang strategi apa yang akan disusun untuk mendapatkan suaara pada pemilihan umum 2019. Sedangkan wilayah Banten dan DKI Jakarta menempati posisi lima dan enam dengan proporsi masing- masing 5,23 persen (3 juta penduduk) dan 4,25 (2 juta penduduk).

Disinilah peran media sosial sangat penting. Media harus bisa menyampaikan pesan yang sesuai dengan fakta dan aktual. Media sosial berguna bagi kaum milenial untuk mencari track record dari elite politik. Disisi lain, media sosial juga berperan penting dalam menyampaikan informasi dari elite politik yang ditunjukkan untuk masyarat terkait visi, misi, program kerja, dan lain-lain. Kita tahu bahwasannya masyarakat Indonesia masih kurang melek media, maka dari sinilah peran kaum milenial dibutuhkan untuk memberikan sedikit pencerahan kepada kaum yang lebih tua terkait perubahan- perubahan di zaman yang serba digital saat ini.

Citra yang melekat dari kaum milenial sangat banyak. Ada yang menyebutnya sebagai sebagai kaum yang otonom dan menentukan pilihannya sendiri, ada yang menggambarkann sebagai kaum yang berkarakter liberal dan sekuler. Bahkan kaum milenial juga disebut sebagai kaum yang apatis dan pasif terhadap dinamika politik dan kurang nasionalisme. Namun secara historis, pemuda Indonesia telah memainkan peran penting di banyak titik kritis proses politik negara, seperti Sumpah Pemuda dan gerakan reformasi tahun 1998 Jika memang benar seperti itu, maka suara mereka dalam pemilu tidak mudah diasumsikan menjadi satu karakteristik dan diolah menjadi satu suara.

Untuk membangun sebuah negara, diperlukan dukungan dan kepercayaan dari bangsanya. Dalam survey yang dilakukan Centre For Strategic and International Studies (CSIS), kaum milenial cukup optimis terhadap masa depan. Itu tandanya, mereka optimis terhadap kemampuan pemerintah untuk membangun negara yang berkelanjutan. Sebanyak 75,3 persen juga optimistis terhadap kemampuan pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari data di atas, tuduhan terhadap kaum milenial sebagai kaum yang pasif terhadap politik salah besar. Meski suara kaum milenial di pemilihan umum nanti tidak bisa ditebak, namun tidak ada salahnya jika para kandidat ingin memenangkan suara dari kaum milenial.

Pikiran yang sangat terbuka dari kaum milenial dalam memandang politik, memudahkan mereka untuk berfikir kritis. Kaum milenial bisa melihat bagaimana arah kampanye politik, dan bagaimana nantinya para calon pemimpin merepresentasikan dirinya. Nantinya kaum milenial tidak akan terpengaruh dengan pilihan keluarganya masing- masing karena mereka pastinya mencari tahu dan memverifikasi kandidat secara mandiri. Kabar baik yang berhembus yaitu sebanyak 78,4 persen kaum milenial akan ikut berpartisipasi dalam pencoblosan presiden dan wakil presiden  2019 mendatang. Keterlibatan anak muda dalam berpartisipasi politik bisa dilihat dari kesukarelaan politik, gerakan sosial, protes, dan berbagi materi terkait kampanye di media sosial, juga merupakan bentuk ekspresi politik—yang melibatkan anak muda yang aktif dan melek teknologi.

Dengan berbagai strategi merebut hati kaum milenial, tak hanya dilakukan para kandidat saja, melainkan partai juga ikut merebutkan suara milenial. Gaya Joko Widodo disebut mencerminkan generasi milenial. Ia gemar memakai sneaker dan membuat vlog style dan aktivitas yang sangat intim dengan generasi milenial. Namun, yang perlu dipahami di sini bahwa karakter generasi milenial ialah melek informasi. Mereka terkoneksi satu sama lain melalui media sosial. Inilah titik pembeda antara generasi milenial (17-35 tahun) dengan generasi X (36-55 tahun), serta generasi baby boomers (55 tahun ke atas). Seperti kutipan Ir. Soekarno “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Secara keseluruhan, kualitas demokrasi Indonesia di masa depan terletak di tangan generasi milenial. Maka dari itu kaum milenial harus bekerja ekstra dan terus membenamkan diri dalam proses politik Indonesia demi kemajuan bangsa. (AVC)

- Advertisement -

- Advertisement -

Comments